Seorang pelajar di Tasikmalaya yang dilaporkan oleh orang tuanya ke komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya karena kecanduan game online hingga nekat mencuri uang dan berutang. Tentunya hal-hal seperti ini tidak baik untuk masa perkembangan anak. Peran orang tua disini sangat penting untuk memberikan kontrol yang kuat agar anak terhindar dari kecanduan game online. Bermain game online jika hanya dimainkan untuk sekedar mencari hiburan dan tidak sampai kecanduan akan membawa dampak yang positif karena digunakan dengan takaran yang pas dan tujuan yang sesuai. Namun akan memberikan banyak dampak negatif jika game online dimainkan secara berlebihan bahkan sampai kecanduan. Game online akan terpengaruh pada aspek sosial anak anak dan remaja, ketika anak sudah mulai kecanduan game online mereka akan lebih jarang berkomunikasi secara langsung dengan orang-orang.

Pada tahun 2019 saat terjadi pandemi di Indonesia, mulai banyak laporan di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) di Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah pasien kecanduan ponsel. Gejala yang dialami berbeda-beda, salah satunya adalah pasien yang tidak mengakui hingga memukul orang tuanya. Media sosial juga menjadi media yang penting dalam menerima informasi begi seluruh penggunanya. Media sosial saat ini bahkan tidak hanya digunakan sebagai media informasi saja melainkan sudah beranjak menjadi media hiburan juga. Semakin mudahnya kita mendapatkan akses informasi dan hiburan di berbagai tempat dari belahan dunia, baik ketika sedang makan, ketika bangun tidur ataupun sebelum tidur, bahkan di toilet sekalipun, akses berselancar di dunia maya dapat dilakukan dengan sangat mudah. Jari-jemari kita dengan begitu lincahnya menggulir gawai yang ada di genggaman tangan. Namun segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, kegiatan berselancar di dunia maya jika dilakukan secara terus menerus tanpa adanya jeda dan pertimbangan pun dapat memberikan dampak yang tidak baik yang akan berpengaruh pada kualitas hidup seseorang. Di satu sisi platform ini memang memberikan banyak keuntungan dalam mendapatkan informasi dan hiburan dengan mudah. Namun disisi lain, media sosial juga dapat memberikan dampak buruk bagi penggunanya. Salah satunya adalah memperburuk kondisi mental kita. Tak sedikit orang yang kecanduan media sosial, justru semakin stres, atau bahkan berubah menjadi orang yang toxic.

Dewasa ini perkembangan dunia di era globalisasi terus berkembang pesat. Salah satu bidang yang terdampak oleh perkembangan tersebut adalah media sosial. Hadirnya berbagai platform sosial media seperti instagram, tiktok, facebook, twitter dan macam-macamnya adalah salah satu bentuk dari perkembangan teknologi di dunia hiburan melalui media elektronik, begitu juga dengan game online. Tentunya semakin berkembangnya game online mulai dari animasi, gameplay, jenis permainan, tampilan, dan lain sebagainya menjadikan game online memiliki daya tarik yang lebih tidak hanya anak-anak dan remaja, bahkan sampai orang dewasa dan orang tua pun juga tidak mau kalah ikut memainkannya.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan penulis kepada 100 responden di SMK Strada 3, hampir 60% dari yang mengisi angket merasa kecanduan bermain sosial media dan game online. Dari responden tersebut kebanyakan mulai merasakan dampak dari kecanduan sosial media dan game online, mulai dari penglihatan berkurang, badan sering terasa lelah, waktu tidur yang tidak teratur, dan sering hilang fokus. Kebanyakan dari responden memang sadar kalau mereka mulai kecanduan dengan sosial media dan game online, mereka juga yakin jika mereka mulai untuk mengurangi waktu bermain game online dan sosial media serta menyibukkan diri dengan kegiatan lain, mereka pasti bisa terlepas dari kecanduan dan ketergantungan dari sosial media dan game online. Namun, beberapa dari mereka merasa tidak mampu untuk keluar dari kecanduan tersebut.

Tidak bisa dipungkiri memang berbagai macam aktifitas manusia saat ini tidak bisa terlepas dari teknologi sebagai wujud alat bantu untuk mendapatkan hiburan dan informasi dengan lebih efektif dan efisien. Namun jika dengan adanya teknologi ini tidak digunakan dengan bijak maka justru akan memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan kita. Berdasarkan saran dari para ahli psikolog anak. Ada beberapa tips untuk mengatasi kecanduan gadget pada anak yang bisa diterapkan oleh orang tua. Pertama, komitmen orang tua di rumah. Disini para orang tua harus bekerja sama untuk berkomitmen dalam membatasi anaknya bermain gadget. Orang tua harus memberikan edukasi pada anak bahwa mereka harus tahu batasan dan aturan dalam menggunakan gadget atau bersosial media. Kedua, membuat jadwal khusus untuk menggunakan gadget. Orang tua harus bisa tegas memberikan izin ke anak untuk bermain gadget hanya di akhir pekan atau seminggu sekali saja. Karena dengan begitu akan mengurangi resiko anak memiliki ketergantungan pada gadget. Ketiga, mendampingi anak saat bermain gadget. Dengan mendampingi anak saat bermain gadget, orang tua bisa secara langsung menghindari anak dari konten atau game yang memiliki unsur kekerasan atau pornografi. Pastikan bahwa anak anda selalu mengkonsumsi konten-konten atau permainan yang edukatif sebagai sarana pembelajaran yang mendidik tapi juga menghibur. Orang tua harus punya kegiatan alternatif. Dengan membatasi anak untuk bermain gadget, tentunya orang tua harus mempersiapkan kegiatan alternative yang dapat membuat anak senang dan teralihkan dari gadgetnya, seperti outbound game, olahraga, atau mengajak anak belajar berkebun.

Belakangan ini muncul sebuah tren yang disebut detoks medsos. Detoks ini merupakan tindakan menjauhkan diri dari dunia maya untuk menjaga kesehatan psikologis. Hal ini tentunya sangat perlu dilakukan jika kamu mulai merasa bahwa hidup terlalu sering dihabiskan untuk berselancar di sosial media. Kecanduan terhadap apa pun termasuk media sosial dan teknologi, bisa membawa dampak buruk bagi kehidupan kita. Sebuah penelitian dari BMC Public Health mengungkapkan bahwa anak-anak di usia sekitar 10 tahun dan aktif di internet dapat memberikan dampak negatif hingga mereka dewasa nanti. Hal ini dikarenakan sejak kecil mereka sudah terbiasa dengan standar kesuksesan atau kecantikan yang begitu tinggi di media sosial. Sehingga, ketika anak-anak tumbuh dewasa mereka merasa tidak pernah puas dengan hasil yang didapat. Hal-hal seperti ini lah yang memicu terjadinya depresi. Oleh karena itu, demi menghindari dampak buruk dari kecanduan media sosial mungkin melakukan detoks media sosial menjadi solusi yang bisa dipertimbangkan.

Untuk melakukan detoks media sosial, pertama-tama yang perlu dilakukan adalah dengan merencanakan untuk menjalani detoksifikasi selama 3 minggu sampai 3 bulan lebih. Perencanaan tentunya penting agar proses detoks ini bisa lebih efektif dan terstruktur dengan jelas goals atau tujuan yang ingin kita dapat setelah proses detoks ini selesai. langkah kedua, cobalah untuk mulai menonaktifkan media sosialmu sementara waktu, seperti instagram, facebook, twitter, tiktok, dan lain sebagainya. Hal ini perlu dilakukan agar proses detoks ini berjalan maksimal. Selanjutnya, coba hapus beberapa aplikasi media sosial dari ponselmu. Kita bisa mulai menghapus aplikasi media sosial di ponsel kita ketika kita sudah merasa terlalu candu dengan aplikasi itu. Cara terakhir yang bisa kita lakukan dalam proses detoks media sosial yakni dengan mencari kegiatan lain tanpa gadget yang dapat mengisi kekosonganmu. Manusia pasti memiliki rasa jenuh, tapi tidak melulu kejenuhan tersebut dilampiaskan dengan menghabiskan waktu untuk bermain game online atau hanya sekedar bermain sosial media. Masih banyak kegiatan lain diluar itu yang bisa kita lakukan dan dapat digunakan untuk melampiaskan kejenuhan kita, seperti olahraga, bermusik, atau melanjutkan hobi yang tertunda.

Setelah melihat dampak negatif dari media sosial dan game online tersebut, maka sebagai penulis ingin menyarankan kepada para pembaca tulisan ini. Jika kamu merasa bahwa media sosial sudah mengambil alih kehidupanmu, maka sudah saatnya untuk coba berhenti sejenak dan lebih fokus ke realita. Masih banyak hal-hal yang bisa dilakukan tanpa harus melibatkan gadget atau ponsel kita. Hadirnya teknologi memang banyak membantu kehidupan kita saat ini. Namun bukan berarti kita harus terus menerus bergantung pada teknologi tersebut, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Perlu ada batas-batasan yang harus kita ketahui dan lebih bijak lagi dalam menggunakan teknologi.

Besar harapan penulis kepada para pembaca tulisan ini agar lebih bijak lagi dalam menggunakan media sosial. Gunakanlah media sosial untuk segala hal yang dirasa positif dan bermanfaat. Juga kepada para orang tua agar lebih cermat lagi dalam mengawasi perkembangan anaknya terhadap penggunan gadget. memberikan edukasi tidak cukup jika kita tidak mencontohkan langsung kepada anak-anak kita. Karena anak akan meniru apa yang dilakukan juga oleh kedua orang tuanya. Menurut saya, detoks media sosial juga mampu untuk mengurangi kecanduan terhadap gadget. Mari bijak dalam bermedia sosial. 

Penulis: Metta Rifyanto

*Naskah yang ditulis pada lomba esai Perkumpulan Strada.

 

Sebarkan artikel ini